Revitalisasi Karakter Santri di Era Digital dan Society 5.0
Santri bukan sesuatu yang aneh bagi masyarakat Indonesia, apalagi bagi kalangan pesantren. Sejarah santri bahkan sudah ada sejak zaman sebelum Islam berkembang di Indonesia. Dengan segala ke-khas-an yang dimiliki, santri telah menempati sudut pandang tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Bisa dipastikan bahwa sudut pandang terhadap santri mayoritas selalu menepatai ruang sosial yang “positif”. Tulisan ini bermaksud mengahadirkan kembali nilai dan karakter ke-santri-an yang memiliki korelasi positif dalam peran keperibadian dan peran sosial. Menghidupakan kembali karakter positif santri diharapkan mampu sebagai teladan bagi generasi muda di era digital dan society 5.0 yang penuh tantangan dan perubahan nilai.
Kata santri menurut kamus besar bahasa Indonesia, memiliki dua pengertian, yakni; orang yg mendalami agama Islam; dan orang yangg beribadah secara sungguh-sungguh; orang yang saleh. Pada definisi lain, makna santri adalah bahasa serapan dari bahasa inggris yang berasal dari dua suku kata yaitu SUN dan THREE yang artinya tiga matahari. Matahari dalam istilah SUNTHREE dimaknai sebagai simbol tiga nilai utama yang harus dimiliki santri, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Ketiganya dipelajari di pesantren untuk membentuk santri yang beriman kepada Allah, taat pada ajaran Islam, dan berbuat baik kepada sesama.Adapun asal-usul kata “santri” memiliki berbagai pendapat: dari bahasa Tamil berarti “guru mengaji”, dari bahasa India shastri berarti “orang yang berpengetahuan tentang kitab suci”, dari bahasa Sanskerta cantrik yang berarti “pengikut guru”, serta gabungan dari kata saint (manusia baik) dan tra (suka menolong).
Karakter santri terbentuk melalui pembisaan yang konsisten dalam limgkungan pesantren yang religius dan sosial. Faktor intrinsik dan ekstrinsik membentuk kepribadian santri,sehingga menghasilkan individu dengan karakter khas dan berakal pada nilai spritual dan moral.meskipun setiap santri memiliki keunikan tersendiri, umumnya karakter yang menonjol meliputi:
1. Theocentric: Segala aktivitas dilandasi oleh kesadaran akan Allah SWT. Santri meyakini hidup sebagai ibadah, menjadikan mereka berhati-hati dalam bersikap dan selalu merasa diawasi oleh Tuhan.
2. Ikhlas dalam mengabdi: Santri menjalani proses belajar dan pengabdian dengan ikhlas,tanpa mengharap imbalan .pengabdian kepada kiai,pesantren ,dan masyarakat menjadi bagian dari pembelajaran hidup yang membentuk kedewasaan dan tanggung jawab.
3. Berakhlak mulia dan bijak : Santri dikenal sabar, rendah hati, patuh pada syariat, dan mampu hidup selaras dengan masyarakat tanpa merugikan pihak lain, serta menghargai perbedaan dan kearifan lokal.
4. Sederhana dan mandiri: Gaya hidup santri cenderung sederhana .Santri dilatih untuk hidup mandiri dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,bahkan sejak usia muda.
Karakter-karakter tersebut sejatinya masih merupakan gambaran awal dan konsep kedirian dan peran sosial santri.Namun setidaknya hal ini menengaskan bahwa santri adalah pribadi yang layak dijadikan teladan,terutama dalam kehidupan sosial yang sarat tantangan di era digital dan society 5.0. Meski demikian, tidak dapat dipungkiri terdapat pula oknum santri dari karakter ideal tersebut.
Memasuki era digital dan society 5.0, dimana teknologi dan kecerdasan buatan berkembang pesat, bangsa indonesia menghadapi krisis karakter,bahkan hingga keranah keluarga. Korupsi yang meluas, meningkatnya individualisme,serta melemahnya semangatnya gotong royong menjadi indikator bahwa nilai-nilai moral dan sosial mulai tergerus.Kebijakan publik pun kerap kali kehilangan dimensi kemanusiaan dan cenderung bersifat simbolik tanpa dampak signifikan.
Dalam konteks ini, karakter santri terbentuk melalui pendidikan bebasis nilai,spritual,dan keteladanan sangat dibutuhkan sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa.Nilai-nilai seperti keikhlaskan,kesederhanaan,tanggung jawab,akhlak mulia, serta orientasi hidup yang teosentris dapat menjadi solusi konkret dalam membangun karakter bangsa yang kuat dan beradap di era digital dan seciety 5.0.
Meneladani karakter santri di era digital dan seciety 5.0 bukan sekedar romantisme masa lalu, melainkan langkah melainkan langkah stategis untuk membentuk generasi muda yang tangguh secara spritual,sosial,dan moral.Di tengah arus globalisasi dan penetrasi budaya asing yang semakin kuat,karakter santri dapat menjadi benteng untuk mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa dan memperkuat jati diri indonesia.
Oleh karena itu, semangat kesantrian perlu terus direvitalisasi dan dikontekstualisasikan kedalam kehidupan generasi masa kini. Bukan hanya menjelang peringatan hari santri pada 22 oktober,tetapi juga dalam praktik kehidupan sehari-hari sebagai wujud kontribusi nyata dalam menjaga moralitas,integritas,dan kemanusian ditengah dinamika zaman yang terus berubah.
Penulis : Faiqotul Mustaqwidah, Prodi PAI Semester II Universitas Islam KH Achmad Muzakki Syah
dari karena cara seseorang berbicara dapat menjadi rujukan atau suatu seseorang yang lebih dapat lebih mudah tau cara berbicara dengan orang lain lebih tau cara menghargai seseorang lain tau mana yang wawasan nya luas atau minim dalam tingkah laku seseorang
menjadi santri adalah suatu kebangaan tersendiri bagi kita,
dengan menjadi santri kita mendidik spiritual kita lebih terarah dan kuat menuju jalan ridho tuhan dengan adanya guru yang membimbing kita..
menjadi santri adalah suatu kebangaan tersendiri bagi kita,
dengan menjadi santri kita mendidik spiritual kita lebih terarah dan kuat menuju jalan ridho tuhan, dengan adanya guru yang membimbing kita.