Pahlawan yang Tak Pernah Meminta Panggung

Pahlawan yang Tak Pernah Meminta Panggung

Saya Epril Eka Lestari, Mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Agama Islam di  Universitas KH Achmad Muzakki Syah. Artikel ini saya tulis sebagai bentuk apresiasi saya terhadap sosok yang sering kali luput dari sorotan. 

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca, khususnya sesama mahasiswa, untuk sejenak berhenti dan merenung, sejauh apa kita telah menghargai mereka yang tanpa lelah membimbing, mendukung, dan mencintai kita sejak awal? 

Dalam kehidupan ini, banyak tokoh yang dielu-elukan seperti pemimpin, seniman, ilmuwan, bahkan selebriti. Namun, ada satu peran yang sangat penting, namun sering kali terlupakan yaitu orang tua. Mereka tidak memakai jubah, tidak tampil di atas panggung, dan tidak mengejar tepuk tangan. Tapi setiap hari, mereka memainkan peran terbesar dalam membentuk kehidupan manusia yakni kehidupan kita. Sejak kita lahir, orang tua adalah orang pertama yang memeluk kita. Tangan mereka mungkin kasar karena kerja keras, tapi penuh kehangatan. Mata mereka mungkin lelah karena malam-malam panjang tanpa tidur, namun selalu memancarkan kasih yang dalam. Mereka memberi tanpa menuntut, mengorbankan tanpa mengeluh, dan mencintai tanpa syarat. Kita mungkin tumbuh dan menjadi sibuk dengan urusan kuliah, nongkrong sana-sini, atau karier. Namun di balik keberhasilan kecil yang kita raih, ada sosok yang diam-diam terus mendoakan, terus mengkhawatirkan, dan terus berharap yang terbaik untuk kita. Mereka mungkin tidak paham semua teknologi atau tren yang kita ikuti, tapi mereka selalu paham satu hal yaitu bagaimana mencintai anaknya dengan cara paling tulus. 

Menjadi orang tua bukan profesi yang bisa dipelajari dari buku. Tidak ada manual tentunya. Namun, dengan cinta, mereka belajar dan terus belajar terkadang dengan kesalahan, kadang dengan air mata, tapi selalu dengan harapan agar kita hidup lebih baik dari mereka. 

Sudahkah kita cukup berterima kasih? Sudahkah kita mendengarkan saat mereka bercerita? Sudahkah kita pulang, sekadar untuk mengatakan, “Terima kasih, umi, babe”? 

Di zaman yang serba cepat ini, mari kita perlambat sejenak. Lihat ke belakang. Ingat wajah mereka. Dan sadari, bahwa tidak ada sukses yang lebih besar dari membuat mereka bangga. Tidak ada pencapaian yang lebih mulia dari membalas cinta mereka meski takkan pernah sepadan. 

Ada kalanya kita merasa dunia tidak adil. Tugas menumpuk, dosen memberi tekanan, teman tidak selalu mengerti. Di tengah semua itu, sering kali kita lupa bahwa ada dua orang yang diam-diam selalu menjadi tempat paling aman untuk pulang yaitu orang tua kita. 

Orang tua tidak pernah meminta kita membalas apa pun. Tapi bukankah sudah saatnya kita memberi lebih banyak waktu, lebih banyak perhatian, dan lebih banyak cinta? 

Mereka bukan hanya pemberi nafkah. Mereka adalah pendengar pertama saat kita belajar bicara. Penonton pertama saat kita belajar berjalan. Dan penyemangat utama, bahkan saat seluruh dunia meragukan kita. Cinta mereka tidak berubah, meski kita berubah. Mereka tetap menyayangi, bahkan saat kita sedang marah, kecewa, atau tak sempat memberi kabar. 

Banyak dari kita tumbuh dan berpikir bahwa kita sudah mandiri. Tapi tidak ada kemandirian sejati tanpa pengorbanan mereka di masa lalu. Kita bisa berdiri tegak hari ini karena dulu ada yang rela berlutut untuk menggendong, rela begadang untuk menjaga, rela mengalah pada segala keinginan mereka demi masa depan kita. 

Dan yang paling menyentuh, mereka tidak pernah menagih apa pun. Bahkan ucapan “terima kasih” pun sering mereka anggap sebagai hadiah yang terlalu besar. Padahal kita tahu, tidak ada yang lebih layak mendapat penghargaan selain mereka. 

Sekarang, mari kita berhenti sejenak. Ambil ponsel, kirim pesan, atau lebih baik lagi, pulang dan peluk mereka. Ceritakan apa yang sedang kita jalani, dengarkan apa yang ingin mereka bagi. Karena waktu bersama mereka adalah hadiah, dan tidak semua orang beruntung memilikinya untuk selamanya.Menjadi anak bukan hanya soal menerima. Tapi juga soal belajar memberi, dengan cara yang paling sederhana yaitu hadir, mendengar, dan mencintai. 

Sebab, tidak ada yang lebih indah daripada membuat dua manusia yang paling berjasa dalam hidup ini merasa dicintai. Dan tidak ada kampus, gelar, atau pekerjaan yang lebih membanggakan, daripada menjadi anak yang tahu caranya menghargai orang tua. 

Sebagai penutup, izinkan saya menuliskan doa sederhana ini, untuk kedua sosok yang cintanya tak pernah lekang oleh waktu 

YaAllah,, 

Ampunilah dosa kedua orang tuaku,sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku sejak kecil. Lapangkan rezeki mereka,sehatkan tubuh mereka,panjang kan dan barokahi umur mereka.rasa sabar,kelak hadiahkanlah mereka surga abadi yang penuh cahaya dan kedamaian.jangan biarkan aku menjadi anak yang lalai,tapi jadikanlah aku sebagai doa hidup yang terus mengalir untuk mereka,AMIN YA MUJIBASSAILIN

Jember 28 Mei 2025

AdminPerpus

One thought on “Pahlawan yang Tak Pernah Meminta Panggung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *